Adab Mengetuk Pintu Langit
Kita mengetuk pintu manusia dengan sopan.
“Maaf mengganggu…” “Permisi…” “Bolehkah saya meminta sesuatu?”
Namun ketika mengetuk pintu langit, sering kali kita datang dengan tuntutan, tergesa-gesa, bahkan kecewa ketika doa belum dikabulkan.
Bukankah kepada Allah seharusnya kita datang dengan adab yang jauh lebih tinggi?
Sebab kita sedang memohon kepada Yang memiliki segalanya. Bukan kepada seseorang yang kebetulan diamanahi sesuatu.
Perbedaan yang ironis
Coba perhatikan. Ketika meminta bantuan kepada tetangga, kita merangkai kata, memilih waktu, bahkan menyiapkan senyum terlebih dahulu. Kita sadar betul diri kita sedang meminta. Ada rasa malu, ada rasa haru, ada kerendahan hati.
Tapi ketika berdiri di hadapan Allah, kadang doa kita berubah menjadi daftar tuntutan. Kita menghitung apa yang belum datang, lupa menghitung betapa banyak yang sudah diberikan tanpa pernah kita pinta.
Menunggu adalah bagian dari doa
Doa yang belum dijawab bukan berarti doa yang ditolak. Kadang Allah menunda karena kita tidak siap menerima, kadang karena yang kita minta belum sebaik yang akan Allah berikan. Orang yang beradab tidak menggedor pintu yang sedang ia ketuk. Ia menunggu dengan yakin, sebab ia tahu siapa pemilik rumah itu.
QuoteDan Tuhanmu berkata, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan perkenankan bagimu.” — QS. Ghafir: 60
Kembali kepada adab
Maka mari kita perbaiki cara kita mengetuk. Datang dengan rasa butuh yang jujur, bukan rasa berhak. Minta dengan suara pelan, bukan tuntutan yang lantang. Syukuri sebelum meminta, dan tawakal setelah meminta.
Kepada manusia, kita meminta sesuatu yang terbatas.
Kepada Allah, kita memohon kepada yang punya kaya. Maka layaklah adab kita kepada-Nya jauh lebih tinggi daripada adab kita kepada siapa pun.