Rain Lily Putih: Sebuah Catatan Tentang Harapan dan Ketabahan
Beberapa waktu lalu saya melakukan perjalanan ke sebuah taman di kaki Gunung Gede, di sana ada banyak sekali bunga yang tumbuh, salah satunya Rain Lily warna putih. Perjalanan itu sendiri saya lakukan semata untuk melepas penat. Di antara tanaman lain yang mencolok, justru bunga kecil itu yang tertinggal di pikiran.
Rain lily putih (Zephyranthes candida) termasuk tanaman kecil yang sederhana. Daunnya sempit seperti rumput, bunganya kecil seperti terompet, dan setiap kuntum hanya bertahan satu sampai dua hari. Yang membuatnya berbeda adalah cara hidupnya, ia bisa bertahan ketika kondisi sulit, tumbuh lalu mekar beberapa hari setelah hujan.
Dari cara hidupnya itulah bunga ini tertinggal di pikiran. Setelah dipikir kembali, hidupnya seperti perpaduan antara harapan dan ketabahan.
NoteSekadar catatan saja, setelah saya cari referensi, ternyata salah satu arti simbolisnya memang seperti itu.
Gambaran Ketabahan
Rain lily tumbuh dari umbi. Saat musim kemarau atau kondisi kurang mendukung, daunnya bisa mengering. Dari luar, ia seolah mati. Tapi umbinya tetap hidup di dalam tanah. Ia tidak menyerah. Ia menunggu.
Hidup kita juga sering seperti itu.
Kita mengejar banyak hal seperti pekerjaan, impian, atau tujuan yang sudah direncanakan sejak lama. Ada masa-masa di mana hasil tidak kunjung terlihat. Usaha sudah dilakukan, doa sudah dipanjatkan, tetapi seolah-olah hujan tidak kunjung datang. Diri ini merasa stagnan. Terasa mengering.
Rain lily putih mengingatkan bahwa ketabahan tidak selalu terlihat dari luar. Ketabahan itu terjadi di dalam diri, di hati dan pikiran, di tempat yang tidak terlihat orang.
Tabah adalah kondisi ketika diri diuji dalam kesabaran dan sikap pantang menyerah. Diuji apakah kita bisa menahan dan terus berjalan sampai akhir, atau berhenti di tengah jalan.
Ada perbedaan antara menunggu dengan pasrah dan menunggu dengan tetap bergerak. Rain lily mengajarkan untuk tidak kehilangan arah. Meski dari luar ia kering, di dalam ia tetap hidup, tetap berusaha, dan tetap siap.
Sama halnya ketika kita menghadapi masalah. Dalam mengejar suatu tujuan, kita perlu terus berusaha, memperbaiki diri, dan menjaga niat. Tapi juga memberi ruang untuk waktu yang tidak bisa dipastikan. Kadang kita terlalu fokus pada hasil, sampai lupa merawat jasmani dan rohani.
Ketabahan bukan berarti tidak pernah lelah. Ketabahan adalah tetap menjaga apa yang masih hidup di dalam diri, meski hari ini belum mekar.
Jadi, dalam hidup kita selalu diuji oleh ketabahan. Kita yang diuji harus tetap bergerak.
NoteIngatlah, Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.
Gambaran Harapan
Keunikan rain lily putih adalah ia merespons hujan. Ketika air cukup meresap ke tanah, bunga-bunga putih itu muncul. Seperti ada sinyal yang ia tunggu.
Dalam kehidupan, hujan itu ibarat kesempatan yang datang tiba-tiba, dalam bentuk yang bermacam-macam. Titik balik yang tidak kita duga. Atau masa di mana usaha yang selama ini dilakukan akhirnya membuahkan hasil.
Kuntum bunganya tidak bertahan lama. Setelah itu, ia bisa mengeluarkan gelombang bunga berikutnya. Harapan di sini tidak sekali muncul lalu habis. Ia bisa datang lagi, setelah jeda, setelah masa yang terasa kering.
Kita sering ingin hasil yang instan dan permanen. Padahal banyak pencapaian justru datang bergelombang. Ada masa mekar, ada masa istirahat, lalu ada masa mekar lagi.
Warna putih bunga ini memberi kesan yang berbeda. Banyak referensi memaknainya sebagai simbol harapan baru, kelahiran kembali, dan awal yang suci.
Dalam kehidupan, kita mudah terburu-buru. Ingin segera sampai. Ingin hasil segera terlihat. Ingin segera mekar. Rain lily seolah mengingatkan bahwa harapan yang baik tidak perlu dipaksakan. Ia datang dengan tenang, bahkan setelah masa yang sulit. Di sanalah keindahan prosesnya: menunggu dengan hati yang bersih dan tidak gelisah.
Ibaratkan tawakal. Semua sudah diatur. Kita tinggal bergerak dan yakin bahwa hasil itu telah ditetapkan. Tidak perlu terburu-buru menuntut semuanya harus cepat dan banyak. Porsi kita telah diatur. Porsi itu tidak akan tertukar dengan orang lain, meski kita memohon sebanyak-banyaknya. Tetaplah menjaga hati tetap bersih dalam menanti harapan itu datang.
NoteIngatlah, barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.
Firman Allah menyebutnya secara jelas: mencukupi. Memberi kecukupan, bukan kekayaan.
Orang yang tidak merasakan cukup akan sulit melewati ujian tawakal. Sebanyak apa pun yang didapat, tetap terasa kurang. Berbeda dengan orang yang merasa cukup. Meski hartanya tidak banyak, ia mampu mencukupi kehidupannya.
Penutup
Tak terasa sudah mencapai akhir catatan ini. Di penutup ini saya mau mengingatkan meskipun Rain lily putih bukan bunga yang besar, tidak terlalu mencolok, dan tidak mekar sepanjang waktu. Justru karena itu, kehadirannya terasa bermakna.
Ketika kita menghadapi masalah, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari, bunga ini mengingatkan dua hal yang sering terlupakan. Ketabahan yang tidak selalu terlihat dari luar. Dan harapan yang tidak mudah padam.
Keduanya tidak bisa dipisahkan. Ketabahan tanpa harapan mudah menjadi sekadar bertahan tanpa arah. Harapan tanpa ketabahan mudah menjadi keinginan yang rapuh. Ketabahan yang dilandasi harapan yang suci menghasilkan suatu kemungkinan yang baik, karena tidak dipaksakan.
Mungkin kita sedang berada di musim kering. Atau sedang menunggu hujan berikutnya. Atau sedang mekar dan akan segera layu lagi.
Tidak apa-apa. Yang penting umbinya tetap hidup.
Selama umbi itu hidup, harapan untuk mekar lagi akan selalu ada.